Matahari terasa panas membakar di atas bumi Kotawaringin Timur. Di bawahnya, tanah mengering dan api mulai merayap dengan cepat di antara semak-semak. Kebakaran hutan dan lahan menyebar terlalu luas, melampaui batas yang bisa dijangkau oleh tangan-tangan manusia di tanah. Maka dari itu, bantuan harus didatangkan dari langit yang tinggi.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan di lapangan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mulai mengerahkan helikopter water bombing. Helikopter itu terbang melintasi kepulan asap tebal untuk menyiramkan air pada titik-titik api yang tidak bisa ditembus oleh petugas di darat. Operasi udara yang pertama dilakukan pada hari Selasa sekitar pukul 13.10 WIB di wilayah Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Langkah besar ini terpaksa diambil karena dalam sepekan terakhir jumlah lahan yang terbakar meningkat begitu tajam, baik di dekat Kota Sampit maupun di pedalaman yang sunyi.
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, api bergerak terlalu cepat dan kekuatan para personel di lapangan sudah mencapai batasnya. Mereka tidak lagi mampu menjangkau setiap jengkal tanah yang membara.
"Dalam sepekan terakhir kejadian karhutla di Kabupaten Kotim cukup banyak. Ada yang bisa kami tangani melalui operasi darat, namun ada juga yang membutuhkan dukungan operasi udara. Karena itu kami mengajukan bantuan helikopter water bombing ke Posko Penanggulangan Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah dan sejak Selasa sore pemadaman menggunakan heli sudah mulai dilakukan," ujarnya pada hari Rabu.
Berdasarkan keterangan dari Multazam, satu tim dari BPBD telah bergerak ke lokasi sejak pagi buta. Mereka berdiri di antara asap untuk memandu jalannya operasi helikopter dan memastikan koordinasi antara tim darat dan udara berjalan dengan baik. Mereka berharap air yang dijatuhkan dari langit dapat memutus jalannya api sebelum segalanya terlambat.
Namun, bahaya lain masih mengintai di dekat jalur lepas landas dan pendaratan Bandara H Asan Sampit, tepatnya di kawasan Jalan Tjilik Riwut. Hingga Selasa sore, tanah yang hangus di sana masih mengeluarkan asap putih yang tebal. Jika angin berembus salah, asap itu akan menutupi pandangan para pilot dan menghentikan penerbangan.
Pemadaman di sekitar bandara itu adalah kerja yang berat dan melelahkan. Tanah di sana kering dan air adalah barang yang langka.
"Air hanya tersedia di parit yang jaraknya sekitar 100 meter dari titik api. Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga ekstra," jelas Multazam dengan nada suara seorang pria yang tahu betul arti dari sebuah kepasrahan dan kerja keras.
Kini, pihak BPBD Kotim masih menunggu hasil kaji cepat di lapangan sebelum menentukan langkah besar berikutnya bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
"Dengan dukungan operasi udara, diharapkan kebakaran dapat segera dikendalikan sebelum meluas ke kawasan lain dan berdampak lebih besar terhadap masyarakat maupun aktivitas penerbangan," pungkasnya. Dia melihat ke langit, berharap api segera menyerah.