Angin berembus di Rumah Jabatan Wali Kota Makassar pada Senin, 6 Juli 2026. Di sana, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melantik lima orang lelaki dan perempuan kokoh untuk memimpin Badan Amil Zakat Nasional Kota Makassar periode 2026-2031. Mereka adalah orang-orang pilihan yang memikul beban berat umat di pundak mereka.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data kepengurusan, mereka yang dilantik adalah Usman Sofian, Yusran Sofyan, Abdul Azis Ilyas, Akhyar Amnur, dan Yusriani. Kelimanya tegak berdiri mewakili unsur ulama, kaum profesional, serta organisasi masyarakat Islam yang mengakar kuat di Sulawesi Selatan.
Latar belakang mereka menceritakan kisah tentang kedekatan dengan satu almamater besar. Tiga dari lima pimpinan tersebut merupakan alumni Universitas Muslim Indonesia yang dikenal dengan sebutan UMI. Usman menyelesaikan seluruh studinya dari sarjana hingga doktor di sana, Yusriani adalah Guru Besar di kampus itu, dan Azis merampungkan magisternya di tempat yang sama.
Menurut komposisi organisasi, kepengurusan ini juga membagi kekuatan yang seimbang di antara ormas Islam besar. Usman Sofian dan Yusran Sofyan merupakan warga Nahdliyin, sementara Abdul Azis Ilyas datang dari Muhammadiyah, dan Akhyar Amnur mewakili Wahdah Islamiyah. Mereka bersatu untuk sebuah urusan yang besar.
Wali Kota Makassar menyadari tugas berat yang membentang di hadapan para pengurus baru ini. Tantangan itu nyata, karena pengurus yang lama telah bekerja dengan keras dan meninggalkan jejak yang baik. Jalan di depan tidak akan mudah untuk dilalui.
"Tentu untuk menentukan pimpinan Baznas Kota Makassar bukanlah hal yang mudah untuk bisa kita lakukan. Apalagi, kinerja para pengurus Baznas periode sebelumnya bekerja dengan sangat baik dan sangat luar biasa," kata Munafri dengan nada suara yang penuh penekanan.
Munafri tidak ingin mereka bersantai. Dia meminta hasil yang nyata dan kerja yang lebih keras dari masa lalu untuk membantu membangun kota. Potensi yang ada harus dikejar sampai batas maksimal.
"Ini sekaligus memberikan tantangan kepada pengurus yang baru dilantik untuk bisa berbuat yang lebih baik, memaksimalkan potensi umat yang dimiliki untuk memastikan Baznas Kota Makassar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembangunan yang ada di Kota Makassar bersama dengan pemerintah," ujarnya menambahkan.
Berdasarkan data resmi dari situs Baznas, ada angka yang sangat besar di kota ini. Potensi zakat di Kota Makassar diperkirakan menyentuh angka Rp1,3 triliun setiap tahunnya. Namun, bumi belum menghasilkan buah yang sepenuhnya.
Realisasi pengumpulan zakat oleh Baznas Makassar baru mencatatkan angka antara Rp10 miliar hingga Rp11 miliar per tahun dalam tiga tahun terakhir. Ada jarak yang jauh antara potensi dan kenyataan, dan di sanalah para pimpinan baru ini harus mulai bekerja.