Pihak Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan terus memperkuat upaya pengelolaan sampah dari sumber dengan menghadirkan 56 fasilitas pengelolaan sampah organik secara mandiri. Langkah nyata ini diambil sebagai komitmen penuh dalam menindaklanjuti pelaksanaan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan keterangan Camat Kebayoran Lama, Mustofa, kebijakan strategis tersebut berjalan seiring dengan rencana pembatasan pembuangan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Pada masa depan, regulasi ketat hanya memperbolehkan jenis sampah residu yang dikirimkan ke tempat pembuangan akhir tersebut.
"Untuk wilayah Kebayoran Lama Selatan sudah dibangun empat teba modern dan 52 lubang biopori jumbo. Untuk itu, masyarakat diwajibkan melakukan pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri dari sumbernya," ujar Mustofa dengan tegas pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Menurut Mustofa, keberadaan puluhan fasilitas baru ini diharapkan mampu memantik kesadaran masyarakat dalam memilah sampah serta memanfaatkan limbah organik secara optimal. Di samping teba modern dan biopori jumbo, wilayah ini didukung satu unit mesin pencacah sampah milik Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan untuk mempermudah proses pemilahan.
"Jenis sampah yang dimasukkan ke dalam biopori adalah sampah organik, seperti sisa makanan, kulit buah, dan sampah basah lainnya. Sedangkan, sampah yang dapat didaur ulang akan dipilah dan diambil oleh petugas Sudin LH. Bank Sampah di setiap RW juga sudah aktif beroperasi," kata Mustofa menjelaskan mekanisme kerja di lapangan.
Berdasarkan penuturan Ketua RW 11 Kelurahan Kebayoran Lama Selatan, Nasir, kolaborasi yang kokoh antara pemerintah dan warga menjadi kunci utama penyelesaian masalah lingkungan ini. Menurutnya, pembangunan sarana fisik yang masif mutlak harus diimbangi dengan edukasi yang gencar agar kesadaran warga tumbuh dari tingkat rumah tangga.
Nasir menambahkan bahwa warga di lingkungannya kini mulai mendalami inovasi pembuatan cairan eco-enzyme dari hasil fermentasi limbah dapur. Cairan organik ini terbukti efektif mempercepat proses penguraian sisa makanan sekaligus melenyapkan aroma tidak sedap yang kerap ditimbulkan oleh pembusukan sampah basah.