Jalanan dari Mamuju menuju Makassar terasa panjang dan kering. Di sepanjang aspal yang menghubungkan Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan itu, papan pengumuman di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum membawa kabar buruk. Bahan bakar minyak jenis Pertalite hilang dari dispenser pengisian sejak Senin pagi hingga menjelang sore.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut pantauan di lapangan, tangki-tangki bawah tanah di beberapa SPBU tidak menyisakan bahan bakar subsidi tersebut. Para petugas hanya berdiri di dekat pompa yang menyediakan Pertamax atau bahan bakar nonsubsidi lainnya. Mereka melambaikan tangan, memberi isyarat kepada para sopir bahwa bensin murah telah habis.
Kondisi lebih buruk terjadi di Kabupaten Majene. Di sana, beberapa tempat pengisian sama sekali tidak memiliki bahan bakar untuk dijual, baik yang disubsidi oleh negara maupun yang tidak. Mesin-mesin pengisian mati dan sunyi.
"Lagi kosong Kak, menunggu pengisian," kata seorang petugas SPBU di Kabupaten Majene. Lelaki itu berbicara dengan nada datar, seolah kepasrahan adalah satu-satunya hal yang tersisa ketika truk tangki pengirim belum juga datang.
Berdasarkan laporan perjalanan, kepastian baru muncul ketika memasuki wilayah Kabupaten Pinrang sekitar pukul 13.50 WITA. Sebuah SPBU sedang melakukan pengisian ulang dari truk tangki. Antrean kendaraan langsung mengular panjang. Banyak pengendara di sana telah menempuh kiloan meter dengan tangki yang hampir kering setelah terpaksa membeli Pertalite eceran di tepi jalan.
Di sepanjang bahu jalan, botol-botol kaca berisi cairan hijau berjejer di atas rak kayu. Para pengecer menjualnya dengan harga yang mencekik, mulai dari Rp13 ribu hingga Rp14 ribu per liter. Mereka berdagang tanpa rasa takut, bahkan beberapa di antaranya menggelar lapak hanya beberapa meter dari gerbang SPBU yang kosong.