Tanah Kaltim adalah tanah yang luas dan matahari bersinar terik di atas sawah-sawahnya. Berdasarkan keterangan resmi dari pemerintah daerah, Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur kini mulai menerapkan skema tanam padi rapat presisi. Sebuah langkah baru yang berani guna mendongkrak hasil panen gabah para petani di sana.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Langkah ini bukan sekadar rencana di atas kertas. Menurut Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kaltim, Fahmi Himawan, metode agrikultur modern ini diyakini membawa perubahan besar bagi masa depan lumbung padi daerah. "Penerapan metode agrikultur modern ini kami proyeksikan mampu melipatgandakan produktivitas sawah dari awalnya rata-rata empat ton menjadi maksimal dua belas ton per hektare," kata Fahmi Himawan di Samarinda.
Kerja besar ini dinamakan program strategis Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS). Berdasarkan data program tersebut, jangkauan penggarapan lahan baru ini ditargetkan mencakup wilayah seluas 7.000 hektare. Jarak adalah segalanya dalam metode baru ini, sebuah perhitungan yang presisi antara benih, tanah, dan air.
Para petani harus mengubah cara lama mereka yang longgar. "Melalui pengaturan jarak baris benih yang amat presisi hingga mencapai tiga sentimeter, tata kelola lahan menjadi sangat efisien sekaligus memberikan ruang tumbuh yang berlipat ganda," ujar Fahmi Himawan menjelaskan mekanismenya.
Tentu saja cara ini menuntut lebih banyak benih yang harus ditebar ke bumi. Skema penanaman rapat tersebut menyaratkan peningkatan volume penggunaan benih padi unggul pilihan dengan takaran mencapai sekitar 80 kilogram untuk setiap satu hektare hamparan persawahan. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibanding standar reguler yang hanya 25 kilogram per hektare atau sawah baru yang biasanya memakan 40 kilogram per hektare.
Tetapi manusia memiliki batas kekuatan dan mesin diciptakan untuk membantu mereka di lumpur yang dalam. Guna meringankan beban kerja fisik para petani saat menyemai benih dalam jumlah besar, pemerintah daerah turut mendistribusikan fasilitas mekanisasi berupa mesin penanam langsung atau drum seeder. "Kehadiran alat pertanian modern ini terbukti tidak hanya mempercepat proses penanaman di lahan basah, tetapi juga memastikan keakuratan jarak antarbenih agar sesuai dengan standar tumbuh optimal," tutur Fahmi Himawan memaparkan manfaat bantuan.
Menurut Fahmi Himawan, implementasi metode inisiatif Kementerian Pertanian ini tidak dibiarkan berjalan sendiri di sawah yang sunyi. Sebanyak 600 tenaga penyuluh pertanian dikerahkan untuk terus mengawal prosesnya secara komprehensif. "Setiap satu orang petugas penyuluh memiliki tanggung jawab untuk mendampingi para penggarap pada hamparan lahan seluas sepuluh hingga sebelas hektare," ucap Fahmi Himawan.
Padi yang tumbuh rapat membutuhkan makanan yang cukup dan perlindungan dari musuh alami. Fahmi Himawan menjelaskan bahwa kepastian keberlangsungan proses produksi pangan tersebut ditopang melalui jaminan pasokan pupuk serta penyediaan pestisida guna mengantisipasi potensi kemunculan hama akibat sistem penanaman berjarak sangat dekat.
Kini, tanah contoh telah ditentukan dan para petani mulai bekerja. Fahmi Himawan menyatakan kawasan sentra agrikultur di Sambutan, Samarinda dan Samboja di Kutai Kartanegara saat ini telah dipilih sebagai lahan percontohan awal. "Kami optimistis kesuksesan panen raya dari lahan percontohan ini menginspirasi semakin banyak warga desa untuk beralih menerapkan pertanian modern demi mengamankan kemandirian pangan kita," kata Fahmi Himawan.