Penyakit itu sudah lama ada di sana, di antara tanah yang basah dan hutan-hutan Kalimantan Timur. Orang-orang mengabaikannya, tetapi bakteri itu bekerja dalam diam. Kini, laki-laki dan perempuan di garis depan kedokteran memutuskan untuk menghadapi penyakit itu dengan keahlian yang lebih tajam. Mereka adalah tenaga kesehatan, dan mereka bersiap untuk perang yang panjang melawan kusta.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin di Samarinda pada Sabtu, peningkatan kemampuan ini adalah hal yang mutlak. "Kesiapan dan keahlian tenaga medis menjadi pilar utama kami dalam memastikan setiap penderita kusta mendapatkan layanan pengobatan secara tuntas dan sangat manusiawi," katanya. Suaranya tenang, seperti suara orang yang tahu apa yang harus dikerjakan.
Berdasarkan keterangan resmi pihak berwenang, langkah ini diambil setelah adanya komitmen bersama yang ditandatangani oleh perwakilan dari 38 provinsi di tingkat nasional. Mereka ingin menghapus kusta dari peta. Di Kalimantan Timur, mereka memulainya dengan melatih para petugas di puskesmas dan rumah sakit agar diagnosis tidak meleset. Deteksi harus cepat, sebelum bakteri sempat merusak tubuh lebih jauh.
"Kami terus memperkuat kapasitas petugas medis tingkat puskesmas hingga rumah sakit agar sistem deteksi dini maupun surveilans warga berjalan jauh lebih akurat," ujar Jaya. Dia tahu bahwa dalam urusan penyakit, ketepatan adalah segalanya. Pemerintah daerah sekarang sedang sibuk memastikan obat-obatan cukup dan fasilitas medis siap di setiap tempat.
Namun, kusta bukan hanya tentang tubuh yang sakit. Penyakit ini juga membawa luka pada jiwa berupa pengasingan oleh masyarakat. Petugas medis kini dilatih untuk tidak hanya memberi obat, tetapi juga membawa penerimaan. Edukasi diberikan kepada perawat agar mereka bisa meruntuhkan dinding stigma yang dingin yang selama ini mengurung para penyintas.
"Selain pemenuhan fasilitas fisik rumah sakit, pembekalan edukasi bagi para perawat juga difokuskan pada pendekatan sosial demi menghapus stigma negatif masyarakat terhadap kelompok penyintas," ucap Jaya. Dia percaya bahwa sikap ramah dari petugas kesehatan akan membantu mental orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK). Dengan begitu, mereka bisa kembali bekerja, melihat matahari, dan berbaur dengan sesama tanpa rasa takut.
Sinergi kini dibangun antara provinsi dan kabupaten. Mereka ingin sebuah sistem yang kokoh, yang melayani semua orang tanpa peduli siapa mereka. Sinergi itu harus kuat, seperti pondasi rumah yang menahan badai.
"Peningkatan kompetensi keahlian tenaga kesehatan lokal kita menekan angka penemuan kasus baru sehingga target pembebasan wilayah dari kusta dapat dipercepat," tuturnya. Kalimat itu menutup pembicaraan, meninggalkan harapan yang nyata bahwa esok hari, penyakit tua ini akan kalah.