Musim kering datang lebih cepat. Angin bertiup membawa hawa panas dari laut yang kian hangat. Pemerintah Provinsi Banten kini bergerak bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pertanian. Mereka memperkuat barisan untuk menghadapi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Juli hingga Agustus ini.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pengamatan tim redaksi di lapangan, tanda-tanda penurunan curah hujan mulai nampak pada beberapa wilayah di bagian utara. Kepala Unit Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kelas I Merak, Trian Asmarahadi, menjelaskan bahwa El Nino adalah tentang meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Fenomena ini menghalau awan, membawa pergi hujan, dan meninggalkan bumi Banten dalam kecemasan akan kekeringan.
Menurut Trian Asmarahadi, kemarau tahun ini tiba satu bulan lebih awal dari waktu yang biasa. Hujan tidak benar-benar hilang dari langit, namun intensitasnya menipis. Ini membuat hari-hari kering menjadi lebih panjang dan melelahkan bagi tanah-tanah pertanian.
"Hampir seluruh wilayah Banten akan merasakan dampaknya. Namun wilayah Banten Utara diperkirakan mengalami musim kemarau lebih awal dan lebih lama dibanding wilayah selatan," ujar Trian Asmarahadi dalam sebuah diskusi yang digelar oleh Diskominfo SP Banten.
Dari pantauan redaksi, ancaman ini nyata dan menjalar ke banyak sektor. Sawah-sawah terancam retak, nelayan menghadapi laut yang berubah, dan sumur-sumur warga mulai menyusut. Cuaca yang membakar juga membawa risiko dehidrasi bagi tubuh manusia serta mengancam pasokan energi yang menopang kehidupan sehari-hari. BMKG kini meminta semua orang untuk menghemat air dan listrik dengan bijaksana.
Pemerintah tidak tinggal diam menanti krisis. Menurut Sekretaris BPBD Provinsi Banten, Hery Yulianto, sebuah rencana kontinjensi kekeringan telah disusun dengan matang. Dokumen itu adalah satu dari belasan rencana yang disiapkan untuk menghadapi amukan alam di tanah Banten. Rencana ini akan berubah menjadi garis operasi yang tegas begitu status darurat resmi ditetapkan di atas kertas.
"Kami terus memantau dampak El Nino, mulai dari potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gangguan kesehatan masyarakat, hingga pemenuhan kebutuhan air bersih," kata Hery Yulianto dengan nada tenang namun waspada.
Sebuah satuan tugas telah dibentuk oleh BPBD Banten. Mereka merajut kerja sama dengan Kementerian Kehutanan, Polda Banten, universitas, hingga pemerintah daerah di tingkat kabupaten dan kota. Jika situasi memburuk menjadi ekstrem, mereka akan memanggil bantuan pusat, berkoordinasi dengan BNPB, TNI Angkatan Udara, serta provinsi tetangga seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat untuk menurunkan hujan buatan lewat operasi modifikasi cuaca.
Peta bencana telah digelar dan wilayah-wilayah yang rentan tanpa air telah ditandai. Berdasarkan keterangan Hery Yulianto, anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) siap dicairkan untuk mengirimkan tangki-tangki air bersih ke desa-desa yang kering. Syaratnya adalah regulasi yang jelas, yakni minimal ada dua kabupaten atau kota yang menyatakan diri berada dalam status darurat bencana.
BPBD Banten juga turun ke kampus-kampus, membawa program edukasi bagi para mahasiswa untuk melahirkan Duta BPBD yang tangguh di lingkungan mereka. Hery Yulianto menegaskan bahwa urusan menghadapi alam yang kering adalah tugas semua orang yang hidup di atas tanah ini. Menanam pohon, menghemat air, dan membuat lubang biopori adalah cara-cara sederhana untuk bertahan.
"Bencana merupakan tanggung jawab bersama. Mari kita menjadi masyarakat yang lebih bijak dalam memanfaatkan air dan bersama-sama membangun ketangguhan menghadapi bencana," ucap Hery Yulianto menutup penjelasannya.
Sementara itu, dari pantauan redaksi di sektor agraria, Dinas Pertanian Provinsi Banten juga sibuk menyiapkan pompa-pompa air dan memetakan saluran irigasi yang tersisa. Langkah mitigasi ini diambil dengan satu harapan besar, agar lumbung-lumbung padi di Banten tidak runtuh oleh sengatan El Nino, dan masyarakat bisa melewati bulan-bulan kering ini dengan selamat.