Jalanan selalu menyembunyikan amarahnya sendiri, kering dan keras di bawah matahari Jakarta. Di Jalan Moch Kahfi II, Jagakarsa, Jakarta Selatan, sebuah perselisihan singkat telah berakhir dengan pukulan yang mendarat di wajah seorang lelaki di atas motornya. Dari pantauan redaksi terhadap rekaman yang beredar luas, lelaki yang mengayunkan tinjunya itu merasa dirinya lebih besar dari jalanan itu sendiri. Namun, keangkuhan di aspal selalu memiliki batas waktu yang singkat.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan keterangan dari Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi, petualangan lelaki berinisial FRS (37) tersebut berakhir di sebuah rumah di kawasan Cipedak pada hari Minggu. Polisi datang dengan senyap dan membawa pergi pria yang sempat merasa menguasai jalanan itu tanpa perlawanan yang berarti. "Sudah ditangkap, di rumahnya di Cipedak," kata Nurma dengan nada datar, mencerminkan ketegasan hukum yang tidak membutuhkan banyak kata.
Menurut pihak kepolisian, interogasi masih terus berjalan di dalam ruang-ruang sempit Polsek Jagakarsa untuk mencari tahu apa yang sebenarnya membakar amarah pelaku hari itu. Penyidik masih menyusun berkas acara pemeriksaan dan menolak untuk terburu-buru memberikan kesimpulan sebelum semua fakta menjadi terang. Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa dibalik jeruji besi, ketakutan sering kali menggantikan keberanian palsu yang dipamerkan di ruang publik.
Semua bermula dari sebuah rekaman video yang bergerak cepat di layar-layar telepon genggam. Korban, seorang lelaki yang mengendarai motornya dengan tenang, tiba-tiba dihampiri oleh bayang-bayang kekerasan. "Lu kenapa nampol gue bang?" tanya korban, sebuah pertanyaan yang tulus dari seseorang yang tidak mengerti mengapa dunia mendadak menjadi begitu kejam kepadanya. Pelaku hanya menjawab dengan ketus, "Yaudah video call bokap lu," sebelum melepaskan dua pukulan lagi ke arah helm korban.
Dari pantauan redaksi, korban memilih jalan yang bijak dengan tidak membalas pukulan tersebut, sebuah tindakan dari seorang lelaki yang tahu bahwa membalas kegilaan dengan kegilaan hanya akan melahirkan tragedi yang lebih besar. Pelaku yang masih dikuasai amarah terus mendekat dan berteriak menantang, "Lu enggak tau siapa gue? Hah? Lu enggak tau?" Namun di hadapan hukum, nama besar yang ia sombongkan di jalanan itu kini tidak lagi memiliki arti apa-apa.