Lelaki mengukir kayu dengan tangan yang tegap, dan dari sana lahir sebuah identitas. Di tanah Kalimantan Timur, budaya bukan sekadar masa lalu yang usang, melainkan napas yang menghidupi hari ini. Dari pantauan redaksi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kini bergerak lebih dalam menuju desa-desa, memijak bumi yang karib dengan tradisi, demi mendorong pelestarian adat yang kelak menjadi penopang kokoh bagi ekonomi kreatif dan daya tarik yang jujur bagi para pelancong.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Sektor ekonomi kreatif yang berakar pada budaya menjadi sebuah jalan baru. Aksi ini laksana air segar yang memberi inspirasi bagi industri, memanfaatkan elemen-elemen kuno ke dalam kriya yang molek dan paket wisata yang hidup. Menurut pengamatan tim redaksi di lapangan, pasar-pasar lokal mulai bergairah dengan produk yang membawa kisah-kisah lama dari pedalaman Kalimantan.
Ada rasa kagum yang tertinggal pada perayaan yang selesai digelar. Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyatakan kekagumannya pada festival di Tepian Sambaliung, Kabupaten Berau, yang berlangsung sejak penghujung Juni hingga awal Juli. "Saya mengagumi berbagai kegiatan budaya lokal yang terus dilestarikan, seperti Festival Abutta Banua 2026", ujarnya di Samarinda dengan nada suara yang mantap.
Bagi sang Wakil Gubernur, jalan pembangunan harus memiliki fondasi yang kuat, dan fondasi itu adalah sejarah. Berdasarkan penuturannya saat membuka festival, pemerintah daerah sejak lama menaruh hormat dan dukungan penuh pada adat istiadat. Setiap wilayah dituntut mencari jalan alternatif yang cerdas agar roda ekonomi terus berputar tanpa kehilangan jiwanya.
"Every adat dan budaya di Kaltim harus dilestarikan dan terus dikembangkan karena mampu menarik wisatawan, sekaligus untuk menggerakkan ekonomi masyarakat lokal", kata Seno Aji. Menurut pandangannya, kegiatan seperti di Berau memiliki posisi strategis untuk menjaga agar warisan leluhur tidak lebur oleh zaman yang bergerak cepat.
Di tempat terpisah, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas memandang festival ini sebagai sebuah cermin yang jernih bagi identitas daerah. Berau yang kaya akan sejarah dan kearifan lokal kini menemukan momentumnya kembali. Menurutnya, keramaian festival tidak hanya mendatangkan uang bagi masyarakat, tetapi juga menegaskan siapa mereka sebenarnya di bawah langit Kalimantan.
"Festival Abutta Banua menjadi ruang bersama untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas daerah. Dari sini, nilai-nilai luhur, adat istiadat, seni, dan tradisi Kabupaten Berau tetap hidup dan berkembang tanpa kehilangan jati diri", ucap Sri Juniarsih dengan penuh keyakinan. Tradisi itu kini mengalir, tenang dan kuat, seperti sungai-sungai besar yang membelah hutan Kalimantan.