Lelaki itu berumur tiga puluh tujuh tahun dan dia mengendarai sepeda motor Kawasaki Ninja dengan amarah yang ringkas. Namanya FRS. Di sebuah jalan di Jagakarsa, Jakarta Selatan, dia menghentikan motornya tanpa helm, lalu melayangkan tinjunya dua kali ke wajah seorang pria yang tertutup masker. Korban tidak melawan, hanya merekam keangkuhan itu lewat kamera ponselnya. "Lo emang gak kenal sama gua?" kata FRS waktu itu, sebuah kalimat tanya yang pongah di bawah langit kota.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan rekaman video yang tersebar luas di jagat maya, korban yang menggunakan akun Instagram @ahmadabdulazis21 tidak mengerti mengapa pukulan itu mendarat di wajahnya. Selesai meluapkan amarah, pelaku membiarkan korban pergi meninggalkan tempat yang panas itu. Namun, rekaman video telah menangkap segalanya dengan jelas, termasuk seringai tipis yang menempel di bibir FRS setelah melakukan kekerasan.
Hari Minggu yang tenang di Cipedak kemudian pecah ketika dua belas polisi datang mengepung rumahnya pada 5 Juli 2026. Mereka membawa FRS pergi dari kenyamanan rumah menuju tempat yang dingin. Menurut keterangan dari Kapolsek Jagakarsa, Kompol Nurma Dewi, penangkapan dilakukan tanpa perlawanan yang berarti. "Sudah ditangkap, di rumahnya di Cipedak," ujar Nurma menerangkan situasi dengan singkat.
Dari pantauan redaksi melalui dokumentasi di ruang Reskrim Polsek Jagakarsa, FRS duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan ditarik ke belakang, terkunci oleh besi borgol yang kokoh. Di sekelilingnya, belasan polisi berpakaian preman berdiri menjaga dengan ketat. Ruangan itu sempit dan penuh tekanan, namun kepala lelaki itu tidak merunduk ke lantai.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi terhadap ekspresi wajahnya, ada sesuatu yang ganjil dari tatapan mata FRS. Tidak ada rasa sesal yang menggantung di sana. Saat kamera membidik wajahnya di markas polisi, bibirnya justru kembali mengukir senyum kecil, persis seperti senyuman yang dia tunjukkan di jalanan saat merasa berkuasa. Kini dia harus berhadapan dengan hukum yang jauh lebih kuat dari kepalan tangannya.