Lelaki itu berdiri di sana, di bawah langit Samarinda yang berat, memegang dendam yang telah lama membusuk di dadanya. Sore itu, di Jalan Teuku Umar, Kecamatan Sungai Kunjang, udara terasa panas dan kaku. Berdasarkan keterangan resmi kepolisian, seorang pria berinisial MD berusia 26 tahun akhirnya ditangkap. Dia telah menikam mantan rekan kerjanya, MT, dengan sebilah sangkur. Itu adalah penyelesaian yang buruk untuk sebuah urusan yang lama.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Kasi Humas Polresta Samarinda Ipda Soeharyadi, luka lama itu telah ada sejak enam bulan yang lalu, ketika mereka berdua masih bekerja di tempat yang sama. Sesuatu yang sepele, sebuah ucapan tentang bau kentut, telah menyulut api yang keras di antara mereka. Kata-kata itu melukai harga diri, dan lelaki tidak mudah melupakan hal seperti itu. MD kemudian keluar dari pekerjaan itu, memilih menjadi penjaga malam di Guest House Priority, membawa serta kemarahannya ke dalam kegelapan pos jaga.
Malam sebelum darah tertumpah, badai kembali mendekat. Dari pantauan redaksi, MD sedang bermain gim di posnya ketika dia mengucapkan kata "kenapa" kepada temannya di dunia maya. Korban yang kebetulan melintas mengira kata itu adalah sebuah tantangan untuknya. Terjadi pertengkaran di bawah lampu pos yang remang. MD mencabut parang, dan korban memilih mundur malam itu. Namun, lelaki yang terluka hatinya akan selalu kembali.
Keesokan harinya, Rabu jam lima sore, mereka bertemu lagi di tempat yang sama. Tidak ada banyak kata, hanya kepalan tangan dan nafas yang memburu. Menurut pihak kepolisian, dalam perkelahian yang singkat dan brutal itu, MD mencabut sangkur dari pinggangnya. Dia menghantamkan besi dingin itu ke kepala korban, satu kali, dan itu cukup untuk menghentikan segalanya. Darah menetes ke tanah yang kering.
Tim redaksi mengamati bagaimana kekerasan kerap lahir dari hal-hal kecil yang dibiarkan mengeram dalam sepi. Polisi dari Unit Opsnal Polsek Sungai Kunjang bergerak cepat malam itu juga. Mereka menemukan MD tidak jauh dari tempat darah itu tumpah. Dia tidak lari. Dia mengakui segalanya kepada petugas, tentang sangkur itu, dan tentang dendam yang akhirnya selesai dengan cara yang kelam.