Pemerintah Provinsi Banten mengambil langkah tegas dalam menjaga kedaulatan pangan dari tingkat paling bawah. Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, hadir langsung dalam agenda Sosialisasi Kebijakan Ketahanan Pangan Lokal dan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Langkah ini diambil untuk membentengi wilayah pedesaan dari ancaman nyata perubahan iklim global yang kian tidak menentu.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan jalannya acara di Swiss-Belinn Modern Cikande, Kabupaten Serang, agenda strategis ini merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bersama lembaga keuangan internasional, The World Bank. Sinergi ini dirancang untuk melahirkan ketahanan pangan yang tangguh menghadapi cuaca ekstrem.
Dari pantauan redaksi, ruang pertemuan dipadati oleh tokoh-tokoh penting nasional. Menteri Desa PDT RI Yandri Susanto hadir bersama jajarannya, didampingi Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arief Satria serta perwakilan dari Amerika Serikat melalui The World Bank, Jessica Ludwig Maaroof. Ratusan kepala desa dari seluruh penjuru Banten duduk bersila bersama, menyatukan visi pertahanan pangan.
Menurut Wagub Dimyati, inisiasi Program Swasembada Ekonomi Hijau dan Ketahanan Pangan Terintegrasi yang disingkat SEHATI merupakan angin segar bagi masa depan desa. Ia menegaskan bahwa kekuatan sejati sebuah daerah terletak pada kemampuan mereka mengelola tanahnya sendiri tanpa bergantung pada pasokan luar.
Dimyati menyampaikan pandangannya mengenai esensi pembangunan berbasis lokalitas. "Kemendes punya program SEHATI, di mana pembangunan desa itu memang harus sama-sama dan juga menginventarisasi potensi yang ada," ujar Dimyati dengan nada tegas di hadapan para aparatur desa.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan adanya kesepakatan kuat bahwa kearifan lokal harus dipadukan dengan ilmu pengetahuan modern. Dimyati berharap penuh agar kementerian terkait dan BRIN mampu memetakan potensi tersembunyi yang ada di tiap desa. Tanah yang subur dan metode pertanian tradisional perlu dipertahankan demi menjaga stabilitas pangan saat paceklik melanda.
Menurutnya, desa yang mandiri secara pangan akan menjadi pilar utama berdirinya fondasi ekonomi nasional yang kokoh. "Saya berharap Kementerian Desa dengan BRIN menginventarisasi potensi-potensi desa dan juga kearifan lokal desa. Sehingga apa yang ada di desa, apalagi dalam menghadapi situasi perubahan iklim yang tidak menentu, kita berharap ketahanan pangan di desa-desa ini tumbuh," katanya.
Desa adalah produsen utama dari apa yang dikonsumsi oleh masyarakat kota setiap hari. Ketika desa mengalami kegagalan panen akibat cuaca, maka kota akan menderita kelaparan. "Kalau desanya tumbuh, hidup, maju, dan mandiri, maka dengan sendirinya akan maju Indonesia ini," tutur Dimyati menambahkan realitas hubungan desa dan kota.
Berdasarkan kebutuhan zaman yang kian menuntut kecepatan, inovasi teknologi kini menjadi keharusan di sektor pertanian desa. Pemprov Banten mendesak BRIN untuk menurunkan teknologi tepat guna, mulai dari sistem pengairan modern hingga metode "smart farming" yang mampu membaca pergeseran cuaca ekstrem agar petani tidak merugi.
Menteri Desa PDT Yandri Susanto mengonfirmasi bahwa Program SEHATI menerapkan konsep kolaborasi oktahelix yang luas. Proyek ini tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, melainkan juga menargetkan hilirisasi produk desa hingga membuka keran ekspor komoditas lokal ke mancanegara, demi mengentaskan kemiskinan dari akar rumput.