Matahari bersinar di atas Jalan Kandea III, Kelurahan Baraya, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar. Di sana, pada sepetak tanah yang dikepung dinding kota, sekelompok manusia menolak untuk menyerah pada keterbatasan ruang. Berdasarkan laporan kegiatan setempat, pengurus RT 005 dan RW 006 bersama Kelompok Wanita Tani Famili 0506 berkumpul untuk memetik hasil dari apa yang mereka tanam dengan sabar: buah-buah tomat yang merah dan ranum.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dari pantauan redaksi di lokasi, kegiatan bertani di tengah kota atau urban farming ini menjadi jalan baru bagi warga untuk bertahan. Mereka memanfaatkan pekarangan dan pot-pot kecil untuk menumbuhkan kehidupan. Menanam di kota adalah urusan merawat harapan di antara beton, dan hari itu harapan itu berwujud buah tomat seberat lebih dari tiga kilogram yang memenuhi tiga ember kecil.
Menurut Lurah Baraya, Arifuddin, yang hadir menyaksikan panen tersebut, tanah yang sempit itu telah berulang kali memberi kehidupan. "Sebelumnya kita sudah panen kangkung dua kali", ujarnya dengan tenang. Kali ini adalah giliran buah tomat yang dipetik, sementara buah yang masih hijau dibiarkan tetap tergantung pada batangnya, menunggu waktu yang tepat di bawah matahari.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan atmosfer kebersamaan yang kuat saat hasil panen mulai dibagikan. Tomat-tomat itu dialokasikan untuk pengurus RT, warga sekitar, dan sebagian dibawa menuju kegiatan Jelajah Sampah yang diadakan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar. Ketua PKK yang hadir juga menerima buah merah tersebut sebagai tanda keberhasilan nyata dari jerih payah para wanita tani.
Udara sore terasa lebih ringan ketika Ibu Darma, Ketua KWT Famili 0506, mengajak semua orang yang hadir untuk duduk bersama dan menikmati hidangan yang telah disiapkan. Berdasarkan penjelasan Arifuddin, makan bersama ini adalah cara mereka merayakan kebersamaan yang erat. Di Kelurahan Baraya, program menanam ini telah menyebar ke tiga RW, namun baru RW 006 yang telah memanen buah pertamanya.
Kini, di tanah yang sama, tanaman kacang panjang mulai merambat naik pada tiang-tiang bambu. Menurut Arifuddin, keberhasilan memanen tomat ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi RW lain untuk mulai menanam. Menanam pangan sendiri bukan hanya soal mengisi perut, melainkan tentang bagaimana manusia di kota merawat tanah mereka dan saling menjaga satu sama lain.