Sebuah bangunan tua berdiri kokoh di dalam lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Namanya SD Kasatriyan Surakarta, sebuah tempat yang didirikan pada 19 Oktober 1910 di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kasatriyan Surakarta. Dahulu rumah bagi anak-anak lelaki pilihan dan bangsawan, kini sekolah dasar tertua di Kota Solo, Jawa Tengah itu harus berhadapan dengan sepi yang panjang.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data penerimaan siswa baru menjelang tahun ajaran 2026/2027 hingga Sabtu, sekolah bersejarah ini baru memperoleh empat orang murid. Zaman telah berubah, dan gema langkah kaki anak-anak di koridornya kian memudar. Guru-guru telah berjalan jauh, mendatangi taman kanak-kanak dan mengetuk pintu-pintu rumah, namun ruang kelas tetap luang.
Menurut Kepala SD Kasatriyan, Erna Wahyudiastuti, pihak sekolah tidak tinggal diam menghadapi takdir ini. Mereka telah mengerahkan segala daya untuk memikat hati masyarakat sekitar. "Sampai hari ini jumlah siswanya yang kelas satu baru ini empat siswa. Dari bapak ibu guru sudah berusaha ke TK-TK, sudah ke rumah-rumah. Bahkan kita sudah promosi dengan cara apa pun itu sudah kita usahakan," ujarnya dengan nada getir.
Dari pantauan redaksi di lokasi, suasana bangku-bangku kosong itu kontras dengan kejayaan masa lalu ketika bersekolah di sana adalah sebuah kehormatan besar. Salah satu alumni yang juga sentana dalem Keraton Surakarta, BRM Nugroho Iman Santoso, mengenang masa-masa penuh kebanggaan itu dengan mata menerawang. "Saya sekolah di SD Kasatriyan ini prestise banget. Sudah pasti anak ndoro itu," ungkapnya mengenang masa kecil.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa sekolah ini lahir dari impian besar seorang penguasa yang memandang jauh ke depan. Berdasarkan penuturan BRM Nugroho Iman Santoso, Sri Susuhunan Pakubuwono X mendirikan tempat ini agar keturunannya tumbuh menjadi manusia-manusia yang cerdas. "Sinuhun PB X ini seorang yang visioner. Beliau membangun sekolah supaya anak cucunya pintar. SD Kasatriyan berada di dalam keraton. Kalau sekarang mungkin seperti sekolah unggulan atau sekolah elit," jelasnya.
Pada masa awal berdirinya, ketika angin kolonial masih berembus kuat, SD Kasatriyan bahkan mengajarkan bahasa Belanda kepada murid-muridnya. Banyak dari mereka yang dipersiapkan untuk melintasi lautan dan melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda. Sebagian pengajarnya pun didatangkan langsung dari sana, menandakan betapa tingginya derajat pendidikan yang pernah bernaung di bawah atap sekolah ini. "Kalau zaman awal-awal itu malah plus bahasa Belanda. Sebagian gurunya dari Belanda karena untuk tingkat lanjutan saat itu harus sekolah di sana," kata BRM Nugroho Iman Santoso mengakhiri ceritanya.